Advertisement

Advertisement

Advertisement

Redaksi1
Selasa, 14 April 2026, April 14, 2026 WIB
Last Updated 2026-04-14T09:42:36Z
Ekonomi

Harga Plastik Melonjak Imbas Penutupan Selat Hormuz, Harga Minyak Curah Ikut Terkerek

Advertisement

JAKARTA – Lonjakan harga plastik di pasaran turut mendorong kenaikan harga minyak goreng curah. Hal ini disampaikan langsung oleh seorang pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, bernama Rudi kepada Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat melakukan tinjauan, Selasa (14/3).
 
Rudi mengatakan harga minyak goreng curah kini mencapai Rp23 ribu per kilogram. Kenaikan ini terjadi lantaran biaya kemasan plastik yang semakin mahal.
 
Ia mencontohkan, harga kantong plastik bermerek Wayang yang sebelumnya dibeli Rp40 ribu per bungkus kini naik menjadi Rp58 ribu. Hal serupa juga terjadi pada kantong plastik merek Tomat.
 
"Sebelumnya ya kayak cap Wayang kemarin saya beli di harga Rp40 ribu, sekarang sudah sampai Rp58 ribu. Jadi, harganya lagi tinggi," katanya.
 
Rudi mulai merasakan kenaikan harga plastik sejak menjelang Lebaran. Ia menduga perang di Timur Tengah antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz menjadi pemicu utama lonjakan harga tersebut. Kenaikan ini tentu membebani usahanya.
 
"(Penutupan) Selat Hormuz atau enggak ngerti itu, itu ngaruh banget itu plastik (harganya naik)," ujar Rudi.
 
Menanggapi keluhan tersebut, Rizal mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) untuk mencari solusi atas kenaikan harga plastik.
 
Kenaikan harga plastik dipicu oleh tekanan pada bahan bakunya, yaitu nafta. Pasokan nafta terhambat akibat perang di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak global. Nafta merupakan cairan hidrokarbon menengah yang diolah dari minyak mentah.
 
Menteri Perdagangan Budi Santoso pernah mengatakan bahwa 60 persen kebutuhan nafta Indonesia masih diimpor dari Timur Tengah.
 
"Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).
 
Budi menjelaskan ketergantungan terhadap impor bahan baku dari kawasan tersebut membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi. Kondisi ini kemudian berimbas pada kenaikan harga plastik di dalam negeri.
 
Untuk mengatasi hal tersebut, Budi mengatakan pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan menstabilkan harga di pasar.
 
"Nah, apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika. Memang ini butuh waktu ya, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain," ujarnya.
 
Senada, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri tengah mencari sumber alternatif pasokan nafta di luar Timur Tengah, mengoptimalkan penggunaan LPG sebagai bahan baku penyangga, serta mendorong pemanfaatan plastik daur ulang berkualitas tinggi sebagai substitusi.
 
Meski harga mahal, Agus memastikan ketersediaan produk plastik tetap aman.
 
"Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik, karena produk plastik dipastikan masih tersedia di pasar," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/4). (Hty)